Selasa, 25 Desember 2012

Kamu dalam kalimat yang bertautan


Kekasih imajiner. Dia, hanya itu, selalu dia. Tanpa kebisingan...

MEMANDANG diriku sendiri, aku melihat sebuah kesedihan. Kesedian yang teramat dalam. Dalam sekali kamu tusukkan beribu –ribu rasa penat, takut, sesal juga benci. Benci itu meronta – ronta minta keluar untuk hinggap dalam hati dan jiwa yang lain. Lain orang lain cerita, ini yang aku rasa. Rasa tentang pemakluman besar atas suatu hal yang bermuara pada cinta. Cinta dan kamu bukanlah dua hal yang harus dijadikan pilihan. Pilihan yang aku namakan tepat, bila hatiku mengenai hati yang tepat. Tepatkah bila aku memujamu? Memujamu, mengagumimu, mengenalmu, membayangkanmu, dan memandangmu adalah sebuah alur mundur kisah aku dan kamu. Kamu tidak perlu mengetahui semuanya. Semua telah kupikirkan masak – masak dan tertulis. Tertulis dalam kenyataan yang baru aku sadari sekarang. Sekarang begini saja, mencintaimu dengan sempurna........... cukuplah dengan memandang

 
By : erdian aji prihartanto (anji)
@erdiANaJI, @anji_lyrics
Buku “cemburu itu peluru”

Tidak ada komentar :

Posting Komentar