Kekasih imajiner. Dia, hanya itu, selalu dia. Tanpa kebisingan...
MEMANDANG diriku sendiri, aku melihat sebuah
kesedihan. Kesedian yang teramat dalam. Dalam sekali kamu tusukkan beribu –ribu
rasa penat, takut, sesal juga benci. Benci itu meronta – ronta minta keluar
untuk hinggap dalam hati dan jiwa yang lain. Lain orang lain cerita, ini yang
aku rasa. Rasa tentang pemakluman besar atas suatu hal yang bermuara pada
cinta. Cinta dan kamu bukanlah dua hal yang harus dijadikan pilihan. Pilihan
yang aku namakan tepat, bila hatiku mengenai hati yang tepat. Tepatkah bila aku
memujamu? Memujamu, mengagumimu, mengenalmu, membayangkanmu, dan memandangmu
adalah sebuah alur mundur kisah aku dan kamu. Kamu tidak perlu mengetahui semuanya.
Semua telah kupikirkan masak – masak dan tertulis. Tertulis dalam kenyataan yang
baru aku sadari sekarang. Sekarang begini saja, mencintaimu dengan
sempurna........... cukuplah dengan memandang.
By : erdian aji prihartanto (anji)
@erdiANaJI, @anji_lyrics
Buku “cemburu itu peluru”
Tidak ada komentar :
Posting Komentar