Air mata ini mulai pecah saat menelusuri jalan menuju makam ayah.
Mudah sekali rasanya air mata ini mengalir,
apalagi saat melihat seorang ayah yg sedang memeluk atau menggenggam tangan anaknya.
Kerinduan itu rasanya begitu terasa.
Aku mulai menarik gas kencang motorku menuju desa tercinta.
Jalan nya mudah buatku wlw cukup jauh.
Yg aku tak kuat karna aku menelusuri jalan dimana nyawa ayahku terenggut.
Begitu menyesakan.
Dan kini aku sudah disini.
Rumah tua yg pernah jadi kenangan bersama ayah.
Inilah hidup. . .
Harus dilewati dan dijalani. . .
Inilah hidup. . .
Harus disyukuri dan memaknainya. . .
Tidak ada komentar :
Posting Komentar